January 6, 2010

MAHASISWA



mahasiswa,
kau insan muda yang bertenaga,
ideamu bernas sentiasa,
perjuangan demi perjuangan kau rela,
demi memastikan suaramu terbela.

mahasiswa,
kau bukan boneka mainan,
kau juga bukan hamba paksaan,
kau patut berdiri menegakkan kebenaran,
bukannya menjadi hamba pentadbiran.

mahasiswa,
pentas mu bukan bilik kuliah sahaja,
kau mampu seiring pemimpin negara,
menjana pemikiran mencorak perubahan,
memimpin masyarakat masa depan.

mahasiswa,
ayuh bangkit dan sedarlah,
berdiri dan laksanakan transformasi,
bukakan minda dan celikkan mata,
kau mampu mengubah DUNIA.

MAHASISWA MEMIMPIN PERUBAHAN






December 20, 2009

Alasan dicipta bukan tercipta



Assalammualaikum...

Salam Maal Hijrah 1431. Alhamdulillah masih lagi diberi kesempatan untuk hidup di tahun baru ini. Semoga tahun hijrah baru ini memberi sinar baru untuk lebih berjaya. Lama sudah blog ini tidak terisi dengan post2 baru. Alhamdulillah kali ini ada kelapangan untuk mengisinya.

Sepanjang cuti ini, macam2 peristiwa berlaku yang memerlukan diri ini berfikir dengan lebih matang agar tidak salah membuat keputusan. Abaikan peristiwa2 ini, hanya kepadaNYA kita bertawakkal atas segalanya. Bukan masalah2 ini yang mahu diutarakan di sini tetapi sebuah kisah sahabat Nabi SAW.

Sewaktu mencari dan membaca kisah perang Nabi SAW, terjumpa dengan kisah seorang sahabat ini yang amat terkesan di hati kerana lebih kurang sama peristiwa yg berlaku dan membuatkan diri ini berfikir adakah diri ini juga tergolong dlm membuatkan kesalahan. Menjadi insan yg futur dan mencipta pelbagai alasan kerana kemalasan? Mungkin inilah sifirnya, alasan itu dicipta bukan tercipta dengan sendirinya.

Tiada jawapan dapat diberi. Semuanya masih membeku di dalam minda mencari-cari jawapan.

" Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepada kamu "Berangkatlah dijalan Allah' sedangkan kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. adakah kamu menyenangi kehidupan di dunia berbanding kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit" ( surah At-Taubah:38)
Align Center

Maaf kisah ini dalam bahasa seberang laut. Sama-sama hayati dan koreksi diri dan sama-sama diberi pengampunan dariNYA.


Kisah Ka'ab b Malik

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.

“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijinAllah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. /Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”
Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.
Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”
Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”

Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.
Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari, aku mengetuk pintu paga Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.
Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.
Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampong halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”
Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”
Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

October 28, 2009

MuhasaBah utk Penggerak Dakwah

Assalammualaikum....

APA SEBENARNYA YANG ANDA PERCAYA?

Ini soalannya.

Apa sebenarnya yang kita percaya selama ini. Sebelum saya bertanya apakah sebenarnya yang kita perjuangkan selama ini?

Perjuangan adalah suatu komitmen kepada apa yang kita yakin. Tetapi jika keyakinan kita begitu goyah hingga sentiasa terganggu oleh usikan idea kontra dan gigitan nyamuk, maka itu bukan lagi keyakinan. Ia hanya taqlid dalam perjuangan. Taqlid boleh berlaku bukan hanya kepada soal fekah, ia adalah pembawaan yang juga boleh menguasai pejuang dan perjuangan.

Mengapa taqlid?

Kerana anda menghafal idea dan fikrah.

Tanda fikrah itu hanya hafalan, ialah apabila fikrah itu gagal berhubung dengan realiti semasa.

Da’ie menulis dan berceramah dengan membuat quotation dari sebanyak mungkin kata-kata tokoh. Si fulan berkata, si fulanah menyebut.

Ia boleh membantu memperlihatkan yang da’ie itu banyak membaca. Sekurang-kurangnya lebih dari anak buahnya. Tetapi semua yang beliau quote, adalah fikrah orang lain. Beliau sendiri, kita sendiri, apa yang kita faham, apa yang kita percaya?

Hal ini terjadi apabila kita tidak pernah mempersoalkan apa yang kita percaya. Kalau diikutkan hati, mahu sahaja saya mengajak kita semua memicit butang reset seperti yang dilakukan oleh Rene Discarte sejurus beliau menamatkan pengajian di Jesuit Academy of La Flèche.

Ragukan kembali semua yang telah dipelajari, dan cari jalan untuk mengembalikan keyakinan terhadap apa yang ingin kita pegang sebagai kepercayaan hidup.

Dubito, ergo cogito, ergo sum

Tetapi ia mungkin terlalu ekstrim.

Cukuplah dengan memulakan langkah memberanikan diri untuk berdiskusi. Gunakan minda untuk berwacana, lebih dari jari untuk menyumbat telinga.

Sekali lagi saya petik nasihat Abu Tayyib al-Mutanabbi, “jika kamu mahu menjadi seorang yang mempunyai pandangan, jadilah seorang yang berpendirian. Sesungguhnya pandangan boleh menjadi rosak, hanya kerana kamu berbelah bagi!”

Ketika mereka yang bersaing dengan Islam begitu aktif mengukuhkan kefahaman mereka terhadap apa yang mereka percaya, gerakan Islam akan hilang siginifikasinya jika ia didukung oleh daie yang fikrahnya seperti istana kaca!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Artikel ini ana edit dari saifulislam.com. Mungkin ada yang pernah baca artikel ini.Ana tertarik kerana artikel ini menarik dan membuatkan ana fikir, fikir, fikir dan terus berfikir. Mungkin ini juga salah satu jawapan kepada diskusi antara ana dan sahabat-sahabat di kampus dengan pelbagai masalah yang wujud sejak akhir-akhir ini. Masalah yang timbul dan solusi yang perlu dicari daripada akar umbinya. persoalan juga dari sahabat ana ttg ummah centric vs jemaah centric. Isu lama yg telah dibincangkan di alam maya ini ditimbulkan semula. Mungkin kerana timbulnya macam-macam perkara. ana bukan ahlinya untuk membincangkan perkara ini. tetapi kita boleh kaji, fikir dan berdiskusi mengenainya. artikel ini juga pandangan dari ustaz tersebut.Jika ada yang tidakbersetuju,terpulanglah.PEMIKIRAN dan KEYAKINAN itu perlu untuk terus berada di jalanNYA.

Wallahu'alam

October 27, 2009

Gerakan Dakwah, Albanna dan Mahasiswa


Assalammualaikum...satu lagi entry semasa revision exam....

Dalam salah satu tulisannya atau mungkin dalam suatu ucapannya, Imam Hasan al-Banna telah menyebutkan yang berbunyi lebih kurang: "Ketika aku sedang disakiti oleh kaum tua, aku telah dibantu oleh kaum muda ..."

Ini disebutkan tokoh itu demi membuktikan keprihatinan beliau terhadap golongan muda terpelajar, iaitu kaum mahasiswa. Malah, Hasan al-Banna telahpun membuat suatu pertemuan besar-besaran bersama mahasiswa dalam suatu muktamarnya.

Hasan al-Banna mengeluarkan suatu rumusan berhubung dua jenis pemuda dalam sebuah ucapannya. Pertama, pemuda yang dilahirkan dalam negara yang huru-hara dan keduanya anak muda yang lahir dalam negara yang senang dan aman.

Dalam konteks negara kita misalnya, mahasiswa yang lahir sekitar 1950-an hingga 70-an adalah golongan yang telah melalui era penjajahan dan mereka bangkit sebagai pimpinan setelah berhasil menempuh ranjau hidup yang panjang. Mereka melawan British dan Jepun.

Sebaliknya, mahasiswa yang lahir selepas tempoh tersebut kurang menyerlah kepimpinan mereka. Adalah tidak adil jika disebutkan mereka tidak punya upaya memimpin. Namun, yang lebih tepat ialah, kepimpinan yang tidak cukup kuat untuk menggalas perubahan.

Ini kerana, mereka yang biasa hidup susah biasanya akal mereka lebih kreatif dan matang lebih cepat berbanding pemuda yang lahir di dalam negara yang aman, demikian menurut Hasan al-Banna.

Prihatin dengan mahasiswa

Saya tak ingat hal ini dengan begitu tajam lantaran kurang rujukan. Tapi bagaimanapun, hal ini cukup membuktikan al-Banna amat prihatin dengan mahasiswa.

Ini kerana, mahasiswa adalah aset masa depan. Kalau kita boleh menyebut hal ini sebagai "sunnah" dalam madrasah pendidikan yang ditemui dalam segudang pemikiran Hasan al-Banna, maka sudah tentulah pimpinan Islam wajib mengikuti "sunnah" al-Banna ini.

Al-Banna bukannya nabi dan rasul yang boleh diiktirafkan perlakuannya sebagai sunnah. Tapi, dalam perbincangan ini, saya sebutkan juga sebagai "sunnah" bagi memudahkan hal perbualan. Ini kerana, sistem tarbiyah al-Banna digunakan oleh "gerila" setelah khilafah berkubur. "Gerila" muncul dalam bentuk usrah yang meledakkan ilmu, meletuskan iman.

Gerakan Ikhwan Muslimin ini bermula dari Mesir. Mungkin pancaran dakwah jenis ini telah bersinar ke Ismailiyah, Iskandariyah dengan pesatnya dan tempias cahayanya turut tumpah menyinggah di Universiti al-Azhar, tempat para mahasiswa sedunia berhimpun.

Silibus dan kurikulum dakwah al-Banna inilah yang telah dipunggah masuk dalam sistem dakwah jemaah-jemaah Islam di Malaysia pada hari ini. Jikalau mahu dibuat perumpaan, tidak keterlaluan jika dinisbahkan beliau sebagai bapa kepada urusan dakwah di abad ini seperti Nabi Ibrahim a.s yang diangkat sebagai bapa segala nabi.

Sekali lagi, bagi mengelakkan kekeliruan dan silap faham-al-Banna bukan nabi dan rasul. Sistem tarbiyyah yang disusunnya seperti usrah, bukannya "sunnah" yang diikuti oleh kalangan aktivis dakwah Islam sekarang ini. Semua ini cuma analogi perumpaan sahaja.

Namun, kiasan ini cuma dibangkitkan bagi menyedarkan kita terhadap suatu persoalan - sejauhmanakah kita telah mengikuti sunnah al-Banna ini? Adakah kita mengikuti sunnah beliau dalam membantu mahasiswa?

Sistem tarbiyyah seperti usrah di universiti tidak hidup sekiranya idea-idea itu tidak diulang cetak oleh mahasiswa al-Azhar ke negara masing-masing. Usrah di universiti yang biasanya menetaskan kepimpinan jemaah, bukannya usrah-usrah desa.

Ertinya, mahasiswa yang paling ramai memainkan fungsinya guna menghidupkan pergerakan Islam dalam politik hari ini.

Inilah jasa buah pemikiran al-Banna di mana mahasiswa adalah mesin atau jenteranya.

Al-Banna amat bijak di dalam hal ini. Apabila beliau "menggunakan" mahasiswa sebagai jentera dakwah, maka beliau akan berusaha memperbaiki semangat dan jiwa pendakwah muda agar terus mantap. Permasalahan anak muda jadi keutamaan beliau.

Jika Hasan al-Banna masih hidup pada saat ini, nescaya beliaulah antara orang yang amat prihatin dan terkesan dengan realiti kampus kita. Mungkin akan wujud muktamar khas bagi mereka. Ingatlah, situasi kampus dahulu berbeza dengan sekarang. Perbezaan ini tentu sekali menuntut perbezaan pendekatan dalam perjuangan.

*****************************************************************************

Artikel ini ana edit dari harakah daily.net "Konflik kampus: Jika Hassan al-Banna masih hidup" oleh Ali Bukhari Amir. artikel ini bukanlah bertujuan apa-apa. Tetapi untuk sama-sama kita berfikir semula tentang penggerak dakwah kampus. Sejauh mana peranan dan kepentingannya dan bagaimana mahasiswa mencorakkannya. sedikit sebanyak ana bersetuju dengan pandangan penulis tentang perbezaan mahasiswa dulu dan kini. Perlunya resepi yang berbeza dengan dahulunya bagi melahirkan mahasiswa seperti kata Hasan Albanna; jentera dakwah dan aset masa depan . Kampus ibarat negara kecil di bawah pentadbiran kabinet mahasiswa dan mahasiswa adalah rakyatnya. Penggerak dakwah perlu wujud agar negara kecil ini dikemudi di atas landasannya dan melahirkan negarawan tarbiyah dikalangan rakyat-rakyatnya. Di sinilah titik mula atau asas agar melahirkan bi'ah solehah di tempat tinggal mahasiswa itu sendiri..

wallahu'alam...sekadar cetusan pemikiran..



October 25, 2009

Janji Allah adalah Kepastian


Assalammualaikum....erm..tengah2 study ni rasa mcm nak post sesuatu kt sini...
Ini salah satu lagu yang ana minat sangat dengan liriknya..sangat memberi kesan untuk semua...tetapi alQuran itu lebih utama dijadikan panduan....kita sebagai hambaNYA mestilah yakin dengan janjiNYA. ana ada terbaca satu blog...kita selalu membaca ayat2NYA..percaya dengan ayat-ayatNYA..tetapi keyakinan padaNYA entah ada entah tidak..astaghfirullah....sama juga mcm sekarang ana lalui iaitu preparation for exam...jika yakin dengan janjiNYA...insyaAllah apa hasilnya kita serahkan kepadaNYA...

'Dan yang mereka bersungguh-sungguh mendapatkan Kami(Allah) nescaya Kami berikan petunjuk kepada mereka akan jalan-jalan Kami'
(surah Al-Ankabut:ayat 29)


Lirik Kepastian - In Team

Ujian Tuhan kepada semua insan
Adalah kehidupan ini
Yang baik menjadi tuntutan
Yang buruk dijauhkan

Syurga yang dijanjikan
Bukanlah suatu khayalan
Tentang nikmat berpanjangan Ilahi

Neraka yang tercipta
Menghimpun azab derita
Tangisan kesengsaraan insan

Syurga adalah kelazatan
Terbentang buat hamba beriman
Yang kasihkan Tuhannya
Yang kasihkan Rasulnya
Yang kasih agamanya

Neraka tempat kemurkaan
Antara kedurjanaan insan
Yang lupakan Tuhannya
Yang lupakan Rasulnya
Yang lupa agamanya

Siapakah yang lebih mulia
Dari mereka yang tidak lupa
Janji Allah adalah kepastian
Dan nikmat syurga adalah indah

WaAllahu'alam